Peran Agama Dan Budaya Islam Dalam Mendorong Perkembangan Iptek di Gontor
Kata9.com - Patut disyukuri
bahwa akhir-akhir ini sikap dan pandangan berbagai kalangan terhadap dunia
pesantren tampak semakin positif dan menggembirakan. Pemerintah, melalui
Departemen Agama dan bahkan Departemen Pendidikan Nasonal, telah memberikan
perhatian yang lebih serius terhadap keberadaan pesantren.[1]
Demikian pula instansi-instansi pemerintah yang lain dan juga pihak swasta di
luar dunia pesantren telah memberikan perhatikan kepada pesantren melalui
berbagai dukungan terhadap program-program pesantren dan kerjasama-kerjasama.
untuk menangani berbagai persoalan; baik di bidang pendidikan, ekonomi, sosial,
dan budaya. Perhatian semacam ini memang sudah semestinya diterima oleh
pesantren, sesuatu yang telah dilupakan dalam waktu cukup lama.
Perhatian ini, di satu sisi, mampu memacu
dunia pesantren untuk terus meningkatkan kinerjanya dalam mendidik para santri;
pesantren tidak lagi menjadi sebuah institusi eksklusif yang immune terhadap
perubahan, sehingga dengan demikian
pesantren sebagai lembaga pendidikan selalu kompatibel dan releven dengan
perkembangan yang ada. Sementara di sisi lain, hal tersebut dapat
menjadi “beban” bagi pesantren. Misi pesantren menjadi tumpang tindih, sebab ia
tidak hanya berfungsi sebagai lembaga yang membina mental attitude dan
mengajarkan ilmu-ilmu agama, karena banyak pihak yang mengharapkan pesantren
juga mengajarkan aneka bidang ketrampilan praktis, misalnya pertanian,
perkebunan, pertukangan, perbengkelan,
dll., yang pada berikutnya dapat mengubah orientasi pendidikan di dunia
pesantren. Dengan masuknya, dan bahkan kadang dominannya, pelajaran ketrampilan
ini, motivasi santri belajar di pesantren pun bisa ikut berubah. Bagi sebagian
santri, belajar di pesantren tidak lagi
karena motivasi hendak menjadi kyai, ulama, atau tokoh agama, tetapi karena
ingin menjadi ahli pertanian, pertukangan, perbengkelan, dst., yang tahu agama;
ingin jadi petani yang tahu agama, tukang yang tahu agama, dll.
![]() |
unida |
Karena itu, banyak pesantren yang
bersikap hati-hati dalam menyikapi perkembangan dan perubahan yang dihadapi.
Hal ini sesuai dengan prinsip dasar yang
dipegangi dunia pesantren dalam melakukan perubahan, yaitu al-muhafazhatu
`ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Perubahan
diantasipasi dengan tetap berpegang kepada prinsip-prinsip dan nilai-nilai
dasar pesantren. Pada prinsipnya, pesantren adalah lembaga pendidikan Islam
yang diselenggarakan untuk melahirkan “ulama yang intelek, bukan intelek
yang tahu agama”. Oleh sebab itu, prioritas pendidikan pesantren ditumpukan
pada upaya-upaya pembentukan kader ulama di mana persoalan penanaman akhlak
karimah dan ilmu-ilmu agama menjadi prioritas utama. Sedangkan hal-hal lain,
terutama bidang-bidang ketrampilan praktis, hanya berfungsi sebagai pelengkap
untuk kesempurnaan peran yang akan dimainkan oleh anak didik pesantren di
masyarakat. Yang pertama adalah tujuan, sedangkan yang kedua adalah sarana dan
pelengkap, bukan sebaliknya.
Dalam frame inilah,
kami berusaha memenuhi permintaan panitia penyelenggara seminar ini untuk
menyampaikan pokok bahasan seperti tersebut pada judal makalah di atas.
B. AGAMA DAN BUDAYA:
ISLAM DAN IPTEK
Dalam sejarah umat manusia, hubungan antara agama dan budaya
didapati sebagai dua hal yang saling terkait dan tidak terpisahkan. Banyak
diyakini bahwa agama adalah fitrah manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai
masyarakat. Sejarah sosial manusia menunjukkan bahwa setiap individu memiliki
kecenderungan agama yang merupakan bagian dari tabiatnya. Fenomena ini
mendorong ilmu sosiologi untuk mendefinisikan manusia sebagai “makhluk
beragama.” Dalam hal ini, seorang pakar peradaban yang kesohor, Malik bin Nabi,
berpandangan bahwa setiap kali seseorang menyusup jauh ke jantung sejarah
manusia, baik pada zaman kejayaan kebudayaannya, maupun pada tingkat yang masih
primitif dari evolusi sosialnya, ia akan mendapati peninggalan di dalamnya yang
menunjuk kepada adanya ide mengenai keberagamaan. Ilmu arkeologi mendapati
bahwa dari celah-celah puing yang diungkapkannya ditemukan jejak-jejak
peninggalan yang khas, yang oleh manusia purba digunakan untuk keperluan
upacara keagamaan. Bagaimanapun bentuk upacara-upacara keagamaan itu, ternyata
bahwa struktur bangunan, dari gua-gua tempat peribadatan pada zaman batu hingga
zaman bangunan tempat-tempat ibadah yang megah, berjalan berdampingan dengan
ide keagamaan. Ungkapan lebih tegas disampaikan oleh filosuf Perancis terkenal,
Henri Bergson, dalam karyanya The Two Sources of Morality and Religion
(1978:92), yang menyatakan: “kita
jumpai pada masa lalu dan sekarang masyarakat
tanpa sains, tanpa seni, dan tanpa filsafat. Tetapi kita tidak pernah
menjumpai sebuah masyarakat tanpa agama.”
Lebih jauh, Malik
bin Nabi menjelaskan bahwa agama adalah katalisator (murakkib)
peradaban; agama merupakan kekuatan independen yang mendasari eksistensi
masyarakat dan menentukan budaya dan peradaban manusia. Untuk memperkuat
gagasannya ini, Malik bin Nabi menunjukkan beberapa contoh dalam sejarah umat
manusia, antara lain: 1) permulaan adanya Bait al-Maqdis atau Ka’bah adalah
tanda adanya pemikiran agama pada masa lampau yang kemudian mendiptakan
undang-undang, pola hidup, kebudayaan, dan peradaban masyarakat di sekitarnya;
2) di Barat, sejarah menunjukkan bahwa peradaban Barat tidak muncul lama
kecuali setelah masuknya pemikiran agama Kristen pada orang-orang badui
berketurunan Jerman di Eropa Utara; dan 3) dalam sejarah Islam terbukti bahwa
masyarakat Arab sebelum turunnya al-Qur’an adalah masyarakat badui yang hidup
di padang pasir yang tandus, setelah al-Qur’an turun, lahirlah dari masyarakat
badui ini sebuah peradaban yang agung dan mulia. Wahyu yang merupakan inti agama Islam itulah yang
dapat melahirkan revolusi masyarakat Arab Badui menjadi masyarakat elit dan
berbudaya.
Dari contoh
terakhir yang dikemukakan Malik bin Nabi di atas, terlihat jelas kaitan Islam
dengan kebudayaan. Islam merupakan agama
yang mendorong pemeluknya untuk melahirkan kebudayaan. Al-Qur’an dan Sunnah sarat dengan pesan-pesan yang
menggerakkan umat Islam untuk menciptakan kebudayaan, di mana ilmu pengetahuan
dan teknologi adalah salah satu dimensi darinya. Untuk menyebut beberapa saja
dari ajaran Islam yang menjadi faktor pendorong lahirnya kebudayaan, marilah kita ikuti uraian Pak Natsir dalam karyanya Kebudayaan Islam
dalam Perspektif Sejarah (1988:47-52).
1. Penghormatan terhadap akal
Islam menghormati akal mausia dan memerintahkan manusia
untuk menggunakan akalnya guna meneliti dan memikirkan alam semesta. Dalam hal
ini Allah SWT berfirman (artinya):
“Sesungguhnya
dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”.(Q.S. 3:190)
Ayat ini dilanjutkan:
“Mereka yang mengingat Allah sambil berdiri dan atau duduk atau
dalam
keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit
dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini
dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa
Neraka.”(Q.S. 3:191)
Dalam sebuah Hadis disebutkan
(artinya): “Agama itu ialah akal, tidak ada agama bagi seseorang yang tidak
berakal.”
2. Kewajiban menuntut ilmu
Islam mewajibkan umatnya, baik laki-laki maupun wanita,
untuk menuntut ilmu. Allah SWT berfirman (artinya):
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang
yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan.”(Q.S.58:11)
Dalam Hadis Nabi disebutkan (artinya): “Menuntut ilmu
itu wajib bagi setiap Muslim.” Dalam Hadis lain disebutkan (artinya):
“Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahad.”
3. Larangan bertaklid buta
Agama Islam melarang para pemeluknya untuk bertaklid
buta, menerima sesuatu tanpa diperiksa walau dari siapapun datangnya. Dalam hal
ini Pak Natsir menyitir Surat al-Isra’:36, yang berbunyi (artinya):
“Dan janganlah kamu mengikuti apa-apa yang
kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendenran,
penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
4. Anjuran berinisiatif
Ajaran Islam menggalakkan pemeluknya untuk berinisiatif,
merintis jalan yang belum ditempuh, mengadakan dan menciptakan hal-hal baru
yang belum ada sebelumnya yang dapat memberi manfaat keduniaan bagi kehidupan
umat manusia. Nabi SAW bersabda (artinya):
“Barangsiapa yang memulai sesuatu hal
(keduniaan) yang baik, baginya pahala sebanyak pahala orang yang mengerjakan
hal itu, sampai hari kiamat.”
5. Memperhatikan hak
keduniaan
Ajaran Islam menyuruh umatnya mencari rida Allah dengan
semua nikmat yang telah diterimanya, dan juga menyuruh mereka untuk
mempergunakan hak-haknya atas dunia, sesuai dengan bimbingan agama. Allah berfirman
(artinya):
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan
Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan jangnlah kamu berbuat
kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan.”(Q.S. 28:77)
6. Dorongan melakukan
akulturasi
Islam gemar terhadap para
pemeluknya yang pergi meniggalkan kampung halaman,
menuju negeri lain untuk
menyambung tali persaudaraan dan bertukar pikiran dan pengetahuan. Allah SWT
berfirman (artinya):
“Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka mempunyai
hati yang dengan itu mereka dapat memahami atu mempunyai telinga yang dengan
itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta,
tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”(Q.S. 22:46)
Ajaran-ajaran Islam semacam di atas
telah mampu melahirkan dorongan yang kuat di kalangan umat Islam untuk mewujudkan
kebudayaan yang maju. Sejarah kebudayaan Islam pernah mencatat kegemilangan
yang dicapai oleh umat Islam di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Tercatat
nama-nama besar ahli sains muslim yang berjasa dalam mengembangkan IPTEK bukan
saja bagi dunia Islam, tetapi bagi umat manusia secara keseluruhan, untuk
menyebut beberapa di antara mereka adalah:
Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi (780-847), Jabir ibn Hayyan, Abu Bakar Muhammad ibn Zakaria al-Razi
(865-925), Abu Ali Husain ibn Abdillah
ibn Hasn ibn Ali Sina (980-1037), Abu
Raihan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni (973-1048),
dan Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitam (965-1039). Mereka tercatat sebagai
ilmuwan-ilmuwan sangat berjasa dalam mengembangkan sains dan teknologi di
bidang fisika, kimia, kedokteran, matematika, astronomi, geologi, zoolagi,
botani, okultasi, dll.
C. PONDOK MODERN
DARUSSALAM GONTOR DAN IPTEK
Secara umum
pesantren atau pondok bisa didefinisikan sebagai “lembaga pendidikan Islam
dengan sistem asrama, kyai sebagai sentral figurnya dan masjid sebagai titik
pusat yang menjiwainya.” Definisi ini menunjukkan bahwa inti dari dunia
pesantren adalah pendidikannya. Pendidikan di dunia pesantren yang berlangsung
24 jam dengan sistem asrama semacam itu mencakup suatu bidang yang sangat luas,
yang meliputi aspek spiritual, moral-emosional, intelektual, sosial, dan
termasuk juga aspek pendidikan fisik.
Dalam perjalanannya yang panjang, lembaga pendidikan pesantren telah
berkiprah secara signifikan pada setiap zaman yang dilaluinya; baik sebagai
lembaga pendidikan dan pengembangan ajaran-ajaran Islam, sebagai kubu
pertahanan Islam, sebagai lembaga perjuangan dan dakwah, maupun sebagai lembaga
pemberdayaan dan pengabdian masyarakat. Karena itu, hingga kini, eksistensi
pesantren tetap dipertahankan dan bahkan terus dikembangkan agar dapat
meningkat kualitas dan kuantitas peran dan kontribusinya bagi kemajuan dan
kesejahteraan bangsa, lahir-batin dan dunia-akhirat.
Pondok Modern Darussalam Gontor
(PMDG) adalah salah satu dari sekian banyak pondok yang telah ikut andil dalam
pembangunan bangsa ini. Andil Gontor ini terlihat dari peran para alumninya
yang tersebar beragam dalam berbagai sektor kehidupan; baik dalam sekala
regional, nasional, maupun internasional. Mereka ada yang menjadi ulama atau
kyai, cendekiawan, pengusaha, pejabat sipil ataupun militer, politisi, da’i,
guru, dosen, seniman, budayawan, dll. Selain itu, kini telah banyak alumni PMDG
ini yang mendirikan dan mengelola lembaga pendidikan pesantren di berbagai
daerah di seluruh Indonesia. Saat ini tidak kurang dari 160 pondok pesantren
besar dan kecil yang telah didirikan dan dikelola oleh alumni PMDG yang tesebar
di seluruh Indonesia, dan bahkan di luar negeri.
1. SEJARAH
SINGKAT
Pondok Modern Darussalam Gontor didirikan pada hari Senin, 12 Rabi’ul
Awwal 1345/20 September 1926 oleh tiga bersaudara yang dikenal dengan sebutan
“Trimurti”, mereka adalah K.H. Ahmad Sahal, K.H. Zainuddin Fannani, dan K.H.
Imam Zarkasyi. Saat ini Pondok Gontor telah berkembang hingga Pondok Modern
Gontor VII; lima pondok putra dan dua pondok putri. Pondok Gontor juga memiliki
perguruan tinggi yang didirikan sejak tahun 1963, yaitu Institut Studi Islam
Darussalam (ISID).
2. IDE TRIMURTI
Ide Trimurti adalah nilai-nilai dan ajaran-ajaran yang mendasari
seluruh proses pendidikan dan pengajaran di Gontor. Ide ini antara lain
tertuang dalam Panca Jiwa, motto, orientasi, sintesa, dan falsafah pondok
pesantren..
a. Panca Jiwa Pondok
Panca Jiwa Pondok
Pesantren, sebagaimana yang telah dirumuskan dan disampaikan oleh K.H. Imam Zarkasyi pada
Seminar Pondok Pesantren seluruh Indonesia tahap pertama di Yogyakarta, 4-7
Juli 1965, yaitu:
1) Jiwa Keikhlasan
Jiwa ini berarti sepi ing pamrih,
yakni berbuat sesuatu itu bukan karena didorong oleh keinginan memperoleh keuntungan
tertentu. Segala pekerjaan dilakukan dengan niat semata-mata ibadah, lillah.
Kyai ikhlas dalam mendidik, santri ikhlas dididik dan mendidik diri sendiri,
dan para pembantu kyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan.
2) Jiwa Kesederhanaan
Kehidupan di dalam pondok diliputi oleh
suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif atau nerimo, tidak
juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam kesederhanaan itu terdapat
nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan, dan penguasaan diri dalam
menghadapi perjuangan hidup. Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar,
berani maju, dan pantang mundur dalam segala keadaan.
3) Jiwa Berdikari
Berdikari atau kesanggupan menolong diri
sendiri ini tidak saja dalam arti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih
mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi pondok pesantren itu
sendiri—sebagai lembaga pendidikan—juga
harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kelangsungan
hidupnya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain.
4)
Jiwa Ukhuwwah Islamiyyah
Kehidupan di pondok pesantren diliputi
suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan
bersama dalam jalinan persaudaraan keagamaan.
Ukhuwwah ini bukan saja selama mereka belajar di Pondok, tetapi juga
mempengaruhi ke arah persatuan umat dalam masyarakat sepulang para santri itu
dari Pondok.
5) Jiwa Bebas
Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan,
bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif
dari luar. Tentu saja kebebasan ini adalah bebas di dalam garis-garis disiplin
yang positif, dengan penuh tanggungjawab; baik di dalam kehidupan pondok
pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan masyarakat.
b.
Motto
Motto pendidikan dan pengajaran di Gontor adalah berbudi tinggi,
berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas
d. Orientasi Pendidikan
Orientasi pendidikan di Gontor adalah kemasyarakatan, kesederhanaan,
kaderisasi, dan lebih dari itu adalah ibadah thalabul ilmi.
e. Sintesa Unsur-unsur Pendidikan di PMDG
Pada awal pembukaan Pondok Gontor, para pendirinya telah mengkaji
beberapa lembaga pendidikan terkenal dan maju saat itu. Mereka merumuskan suatu
sintesa unsur-unsur utama dari berbagai
lembaga pendidikan yang diperhatikannya.
1) Universitas al-Azhar di Kairo, Mesir,
dengan keabadian dan kepemilikan wakafnya.
2) Pondok Syanggit di Afrika, dengan kedermawanan dan keikhlasan
para pengasuhnya.
3) Universitas Muslim
Aligarh di India, dengan modernisasinya.
4) Shantiniketan, di
India, dengan kedamaiannya.
e. Falsafah
Falsafah yang mewarnai dan mendasari gerak dan aktifitas di Gontor
adalah
1) Falsafah
Kelembagaan
a)
Pondok Modern Gontor berdiri di
atas dan untuk semua golongan.
b)
Pondok adalah lapangan
perjuangan, bukan tempat mencari penghidupan.
c)
Pondok itu milik umat, bukan
milik kyai.
2) Falsafah Kependidikan
a)
Jadilah ulama yang intelek,
bukan intelek yang tahu agama.
b)
Hidup sekali, hiduplah yang
berarti.
c)
Berjasalah tetapi jangan minta
jasa.
d)
Mau dipimpin dan siap memimpin,
patah tumbuh hilang berganti.
e)
Berani hidup tak takut mati,
takut mati jangan hidup, takut hidup mati saja.
f)
Apa yang dilihat, didengar,
dirasakan, dan dialami santri sehari-hari harus mengandung unsur pendidikan.
g)
Seluruh mata pelajaran harus
mengandung pendidikan akhlak.
h)
In uridu illa al-ishlah.
i)
Sebaik-baik manusia ialah yang
paling bermanfaat untuk sesamanya.
j)
Pendidikan itu by doing,
bukan by lip.
k)
Perjuangan itu memerlukan
pengorbanan: bondo, bahu, pikir, lek perlu sak nyawane.
l)
I’malu fauqa ma ‘amilu.
m)
Hanya orang penting yang tahu
kepentingan, dan hanya pejuang yang tahu arti perjuangan.
n)
Jadilah orang yang kaya iman,
kaya ilmu, kaya budi, kaya jasa; biarpun miskin/kurang harta, asal jangan
miskin budi, miskin jasa, miskin hati; syukur jika kaya harta pula.
3) Falsafah
Pembelajaran
a)
Metode lebih penting daripada
materi, guru lebih penting daripada metode, dan jiwa guru lebih penting
daripada guru itu sendiri.
b)
Pondok memberi kail, tidak
memberi ikan.
c)
Ujian untuk belajar, bukan
belajar untuk ujian.
d)
Ilmu bukan untuk ilmu, tetapi
ilmu untuk ibadah dan amal.
e)
Pelajaran di Pondok: agama 100%
dan umum 100%.
3.
ORGANISASI
Seluruh organisasi di Gontor didirikan untuk
memperlancar dan menjamin keberhasilan pendidikan dan pengajaran di dalamnya.
Lembaga tertinggi di Gontor ialah Badan Wakaf, yang bertanggungjawab
secara menyeluruh atas pelaksanaan dan perkembangan pendidikan dan pengajaran
di Pondok Modern. Untuk tugas dan kewajiban keseharian lembaga ini dijalankan
oleh Pimpinan Pondok sebagai mandataris Badan Wakaf yang membawai seluruh
lembaga di Gontor dan bertanggungjawab kepada Badan Wakaf Pondok Modern Gontor.
Lembaga-lembaga yang berada di bawah Badan Wakaf, antara
lain:
a. Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI)
Kulliyatu-l-Mu’allimin al-Islamiyah
(KMI) didirikan tanggal 19 Desember 1936, sebagai lembaga penyelenggara
pendidikan tingkat menengah.
b. Institut Studi Islam Darussalam (ISID)
Institut Studi Islam Darussalam (ISID) berdiri
tanggal 1 Ramadan 1383 / 17 Nopember 1963, sebagai rintisan awal menuju
terwujudnya cita-cita Universitas Islam Darussalam yang menjadi pusat
pendidikan Islam yang bermutu dan berarti. Saat ini ISID mempunyai 3 fakultas:
Tarbiyah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam dan Pengajaran Bahasa Arab,
Ushuluddin dengan jurusan Perbandingan Agama dan jurusan Aqidah dan Pemikiran
Islam, dan Syari’ah dengan jurusan
Perbandingan Madzhab dan Hukum dan jurusan Ekonomi Islam.
c. Pengasuh
Santri
Pengasuhan santri adalah lembaga yang mendidik dan
membina langsung sebagian kegiatan ko-kurikuler dan seluruh kegiatan
ekstra-kurikuler santri tingkat menengah (KMI) dan santri tingkat perguruan
tinggi (ISID).
d. Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) yang menangani alumni atau eks-santri yang tersebar di seluruh
Indonesia dan di luar negeri.
e. Yayasan Pemeliharaan dan Perluasan Wakaf
Pondok Modern (YPPWPM) yang bertugas menggali dana untuk memenuhi sarana
dan prasarana serta berbagai kebutuhan lain demi berlangsungnya proses
pendidikan dan pengajaran di Pondok.
f. Koperasi Pondok Pesantren
(Kopontren) La Tansa yang mengupayakan usaha- usaha untuk mencukupi segala kebutuhan dalam
menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran melalui pendirian berbagai unit
usaha yang tergabung dalam Koperasi Pondok Pesantren ini (saat ini mempunyai 20
unit usaha)
4.
KURIKULUM
Sebagaimana pondok pada umumnya, Pondok Gontor mandiri dalam
menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran, karena itu kurikulumnya pun disusun
secara mandiri. Materi ketrampilan, kesenian, dan olahraga tidak dimasukkan
dalam kurikulum intra, melainkan menjadi aktivitas ekstra-kurikuler, agar para
santri dapat lebih bebas memilih serta mengembangkan bakat sesuai dengan
aktivitas yang ada.
a. Intra-Kurikuler
Sebelum membahas item ini secara lebih lanjut, perlu dijelaskan
lebih dulu mengenai program belajar dan jam belajar di KMI.
1) Program
Terdapat dua macam program yang ditempuh siswa di KMI PMDG: program
reguler untuk lulusan SD/MI, dengan masa belajar 6 tahun; dan
program intensif
untuk lulusan SMP/MTs dan di atasnya, masa belajar 4 tahun (kelas
1-3-5-6).
2) Jam Belajar
Kegiatan intra kurikuler di KMI berlangsung dari jam 07.00WIB-12.50
WIB, dengan istirahat 2 kali: pertama jam 08.30-09.00 dan kedua jam
11.15-11.30. Waktu belajar itu dibagi menjadi 7 jam pelajaran, masing-masing
mendapat alokasi waktu 45 menit, kecuali pelajaran jam ketujuh yang mendapat
alokasi waktu 35 menit.
3) Tujuan
Tujuan institusional umum dari kurikulum KMI adalah mencetak santri
yang mukmin muslim, taat menjalankan dan menegakkan syari’at Islam, berbudi
tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, dan berpikiran bebas, serta
berkhidmat kepada bangsa dan negara.
4) Isi
Kurikulum ini dapat dibagi menjadi beberapa bidang studi sebagai
berikut:
a)
Bahasa Arab (Semua disampaikan
dalam Bahasa Arab): al-Imla’, al-Insya’, Tamrin al-Lughah, al-Muthala’ah,
al-Nahwu, al-Sharf, al-Balaghah, Tarikh al-Adab, dan al-Khat al-`Arabi.
b)
Dirasah Islamiyah (kelas II ke
atas, seluruh materi ini menggunakan B. Arab): al-Qur’an, al-Tajwid, al-Tauhid,
al-Tafsir, al-Hadis, Mushthalah al-Hadis, al-Fiqh, Ushul al-Fiqh, al-Fara’idl,
al-Din al-Islami, Muqaranat al-Adyan, Tarikh al-Islam, al-Mantiq, dan
al-Tarjamah (Arab-Indonesia)
c)
Keguruan: al-Tarbiyah wa
al-Ta’lim (dengan B. Arab) dan Psikologi Pendidikan (dengan B. Indonesia)
d)
Bahasa Inggris (dengan B.
Inggris): Reading and Comprehension, Grammar, Composition, dan Dictation,
e)
Ilmu Pasti: Berhitung,
Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam, Fisika, dan Biologi.
f)
Ilmu Pengetahuan Sosial: Sejarah
Nasional dan Internasional, Geografi, Sosiologi, dan Psikologi Umum
g)
Keindonesiaan/Kewarganegaraan:
Bahasa Indonesia dan Tata Negarara
5) Kegiatan KMI
Kegiatan yang dimaksudkan di sini tidak melulu bersifat
intra-kurikuler, tetapi juga meliputi beberapa kegiatan ko-kurikuler yang
ditangani oleh KMI. Kegiatan tersebut terdiri dari kegiatan harian, mingguan,
tengah tahunan, dan tahunan.
a) Kegiatan
Harian meliputi: (1) Supervisi proses pengajaran, (2) Pengecekan persiapan
mengajar, (3) Pengawasan disiplin masuk kelas, (4) Pengontrolan kelas dan
asrama santri saat pelajaran berlangsung, (5) Penyelenggaraan belajar malam
bersama wali kelas, berlangsung dari jam 20.00-21.45.
b) Kegiatan Mingguan: (1) Pertemuan guru KMI setiap
Kamis (Kemisan) untuk mengevaluasi kegiatan belajar mengajar selama
seminggu. Forum ini juga digunakan oleh Pimpinan Pondok untuk memberikan
pengarahan dan menyampaikan program-program dan masalah-masalah Pondok secara
keseluruhan, (2) Pertemuan ketua-ketua kelas (Jum’at malam).
c) Kegiatan Tengah Tahunan
yang meliputi ujian semester I dan II.
d)
Kegiatan Tahunan
(1) Fath al-Kutub: yaitu latihan membaca
kitab-kitab berbahasa Arab (terutama kitab klasik) untuk kelas V dan VI. Santri
diberi tugas untuk membahas persoalan-persoalan tertentu dalam akidah, fiqih,
hadis, tafsir, tasawwuf, dll., serta kemudian membuat dan menyerahkan laporan
tertulis mengenai hasil kajiannya kepada guru pembimbing untuk dievaluasi.
Kegiatan ini berlangsung seminggu.
(2) Fath al-Mu’jam: latihan dan ujian membuka kamus berbahasa
Arab untuk meningkatkan ketrampilan dan kemampuan berbahasa Arab santri,
terutama dalam mencari akar dan makna kosa kata.
(3) Manasik al-Haj: latihan ibadah haji bagi
siswa baru, berlokasi di lingkungan kampus, di bawah bimbingan guru ahli.
(4) Amaliyat al-Tadris, yakni praktek mengajar untuk siswa
kelas 6.
(5) Al-Rihlah al-Iqtishadiyah (economic study
tour): orientasi tentang dan kunjungan ke dunia usaha dan kewiraswastaan,
untuk menanamkan jiwa kemandirian dan kewiraswastaan kepada para santri.
(6) Penulisan karya ilmiah mengenai berbagai persoalan
keagamaan dan kemasyarakatan dalam bahasa Arab.
(7) Pembekalan
wawasan mengenai berbagai persoalan untuk santri kelas 6 menjelang tamat
belajar di KMI, yang meliputi:
Orientasi tentang: dunia pers
dan jurnalistik, belajar di perguruan tinggi, wawasan pengembangan
kemasyarakatan, kepondokmodernan, perpustakaan, studi islam, dan metode dakwah.
Ceramah dan dialog mengenai
gerakan-gerakan Islam kontemporer di Indonesia.
Penataran untuk mengajar TPA/Q.
b. Kegiatan Ekstra Kurikuler
Kegiatan ini sebenarnya tidak sepenuhnya bersifat ekstra, karena ada
yang sebenarnya bersifat ko-kurikuler. Kegiatan ini ditangani oleh Pengasuhan
Santri melaui Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) dan Gerakan Pramuka.
Kegiatan ini terbagi menjadi kegiatan harian, mingguan, tengah tahunan, dan
tahunan (lihat lampiran).
Semua kegiatan dalam berbagai bentuknya seperti yang
telah dijelaskan di atas merupakan satu kesatuan “kurikulum” yang tak
terpisahkan yang mengatur seluruh kahidupan
santri guna mencapai tujuan
pendidikan dan pengajaran yang dikehendaki. Dengan kata lain semua kegiatan
yang ada memiliki nilai pendidikan dalam berbagai aspeknya, sehingga “segala
yang dilihat, didengarkan, dirasakan, dan dialami oleh santri adalah untuk
pendidikan”.
5. PENGAJARAN DAN PEMANFAATAN IPTEK DI GONTOR
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang berlangsut
pesat saat ini merupakan salah satu indikator terpenting dari pencapaian
kegemilangan kebudayaan umat manusia di abad mutakhir ini. Perkembangan ini
telah mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan bendawi manusia secara sangat
memuaskan, sesuatu yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Tetapi
persoalannya adalah bahwa kebutuhan manusia itu bukan hanya bersifat
lahiriah-bendawi, manusia juga memerlukan sesuatu yang batiniah-maknawi, yang
dapat memberikan makna pada kehidupannya. Di sinilah peran agama menjadi
penting, karena kebermaknaan hidup itu hanya bisa diberikan oleh agama. Di sini
pula pesantren, sebagai lembaga pendidikan keagamaan Islam, dapat menyumbangkan
perannya dalam memberikan faktor penyeimbang bagi kepincangan hidup manusia
modern yang mengalami kekosongan batin dan ketidakbermaknaan hidup.
Sebagaimana telah
dijelaskan sebelumnya bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang
mengemban misi mencetak kader-kader ulama calon pemimpin umat. Dalam konteks
kekinian dan kedisinian ulama yang dilahirkan pesantren bukanlah sekadar ulama
yang berakhlak karimah dan menguasai ilmu-ilmu agama dengan pengertian yang
sempit. Sebab problem dan tantangan yang dihadapi oleh umat saat ini sudah
sangat komplek yang memerlukan penanganan dengan menggunakan pendekatan yang
berbagai. Problem-problem yang komplek tersebut tidak bisa hanya dihadapi dengan
pendekatan doktrinal-teologis berdasarkan buku-buku daras keagamaan yang
diajarkan di pesantren. Diperlukan pendekatan lain untuk melengkapi ketimpangan
ini, yauitu pendekatan kultural-sosiologis. Untuk itu, diperlukan adanya
integrasi antara kedua pendekatan tesebut untuk memperoleh penyelesaian yang
lebih komprehensif. Di sini barangkali letak relevannya misi pesantren yang
hendak melahirkan “ulama yang intelek.” Yakni sosok yang menguasai ajaran dan
doktrin agama dan memahami ilmu-ilmu sosio-budaya.
Untuk kesempurnaan peran yang akan dijalankan oleh anak
didik pesantren, tentu akan menjadi nilai tambah jika pesantren juga membekali
santrinya dengan ketrampilan di bidang sains dan teknologi tertentu yang memang
dibutuhkan dan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai dan ajaran-ajaran
Islam.
Di Gontor, pengenalan dan pengajaran sains dan teknologi
diselenggarakan di dalam kelas (pada jam belajar pagi) dan di luar kelas,
bahkan porsi di luar kelas jauh lebih besar dibandingkan di dalam kelas.
Sebagaimana disebutkan di atas, materi-materi administrasi, menejemen,
akuntansi, ketrampilan, kesenian, dan olahraga tidak dimasukkan dalam kurikulum
intra, melainkan menjadi aktivitas ekstra-kurikuler, agar para santri dapat
lebih bebas memilih serta mengembangkan bakat sesuai dengan aktivitas yang ada.
a.Pengajaran IPTEK di kelas
Ilmu-ilmu dasar yang diajarkan secara formal pada pagi hari meliputi
fisika, biologi, astronomi (ilmu falak), matematika, dan berhitung. Untuk
mendukung keberhasilan pengajaran materi-materi itu, saat ini Pondok mempunyai
laboratorium fisika dan laboratorium biologi.
Di samping ilmu-ilmu di atas, juga diajarkan ilmu-ilmu
sosial yang meliputi psikologi umum, psikologi pendidikan, antropologi,
sosiologi, geografi, sejarah, dan tata negara. Ilmu-ilmu bahasa juga diajarkan
pada waktu pagi, meliputi bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. Untuk pengajaran
bahasa ini, Pondok mempunyai laboratorium bahasa.
b.Pengajaran IPTEK di luar kelas
Dalam kegiatan ekstra-kurikuler, santri diajari ilmu-ilmu menejemen,
administrasi, dan akuntansi secara teoritis melalui diklat-diklat yang
diselenggarakan oleh organisasi dan secara praktis dengan langsung menangani
organisasi-organisasi santri yang cukup banyak jumlahnya; mulai dari menangani
departemen-departemen dalam Organisasi Pelajar Pondok Modern (OPPM) yang
merupakan induk organisasi santri dengan 20 departemen, organisasi kepramukaan
dengan 11 andalan/bagian, organisasi kesenian dan kursus-kursus kesenian,
organisasi kerajinan tangan dan kursus-kursus kerajinan tangan, klub-klub
olahraga, organisasi-organisasi daerah/konsulat, organisasi asrama, organisasi
dalam kursus-kursus bahasa, organisasi kelompok-kelompok kajian dan diskusi,
organisasi penerbitan, dll.
Sedangkan materi-materi ketrampilan diajarkan melalui
kursus-kursus yang ditangani oleh departemen-departemen tertentu dalam OPPM. Di
antara kursus-kursus ketrampilan yang diselenggarakan adalah: kursus menjilid
buku, sablon, merangkai bunga, merangkai
janur, membuat minuman limun, bengkel sepeda, fotografi, mengetik,
komputer, maintenance komputer, menjahit, dan kaligrafi.
Ketrampilan mengelola media informasi dan komunikasi
sederhana dalam berbagai bentuknya juga dipelajari oleh santri mulai dari
menerbitkan majalah dinding mingguan oleh kelas, asrama, klub diskusi, klub bahasa, klub
olahraga, klub ketrampilan, dan infor pramuka; koran mingguan Darussalam Pos
dan Ulul Albab; Buletin Mingguan “Pusaka”; Info Inti IKPM, terbit bulanan yang
mengkover berbagai kegiatan Pondok dan IKPM-IKPM Cabang; sedangkan untuk 3
bulanan diterbitkan “Buletin IKPM” , yaitu info kegiatan Pondok dan IKPM
pertiga bulan, dan diterbitkan juga majalah “Himmah” dan “Itqan”, dua media
keilmuan santri.
Sementara fasilitas informasi dan komunikasi yang
disediakan oleh Pondok untuk memenuhi kebutuhan para santri adalah telepon, fax, media cetak (koran dan
majalah), dan internet.
6. Pondok Modern Gontor DAN Pembinaan
Masyarakat Sekitar
Masyarakat sekitar yang dimaksudkan di sini adalah masyarakat yang
berada dalam radius 10 KM dari Pondok Modern Gontor. Di samping mendidik dan
mengajar santri di dalam kampus, Pondok juga memberikan perhatian terhadap
pembinaan masyarakat sekitar. Upaya-upaya Pondok dalam hal ini dilakukan oleh
guru-guru yunior dan senior serta para alumni yang telah berada di lingkungan
masyarakat dan tetap menjalin komunikasi aktif dengan Pondok. Kegiatan ini
dapat dikelompokkan menjadi tiga:
1. Pendidikan dan
Sosial-Keagamaan
a.
Pendirian pesantren-pesantren ala Gontor oleh alumni
Gontor (5 pesantren).
b.
Pendirian sekolah-sekolah oleh guru dan atau alumni Gontor,
dengan rincian 4 MTs, 2 MA, dan 1 SMP.
c.
Pendirian TPA dan TPQ (148 buah).
d.
Penyelenggaraan pengajian-pengajian baik untuk masyarakat
umum seperti yang diselenggarakan pada setiap Ahad pagi, jam 06.00-07.00,
dengan mengundang da’i-da’i dari daerah Ponorogo dan sekitarnya. Adapun pengajian yang khusus diselenggarakan
untuk para pekerja Pondok pada setiap Sabtu malam.
e. Penyelenggaraan
peringatan hari-hari besar Islam.
f. Pendirian
ratusan masjid dan musholla di sekitar Gontor.
g. Pembinaan
desa-desa tertentu, terutama di bidang pendidikan, keagamaan, dan ekonomi.
2. Seni, Budaya, dan
Olahraga
Hal
ini dilakukan dengan memfasilitasi berbagai pagelaran kesenian, terutama reog
dan gajahan, dan kompetisi-kompetisi olahraga dalam berbagai kesempatan semisal
pada peringatan hari-hari besar Islam, acara-acara peringatan di Pondok, dan
dalam berbagai kegiatan sosial yang diadakan oleh masyarakat bersama Pondok.
Pondok juga melakukan pembinaan terhadap tokoh-tokoh paguyuban reog Ponorogo.
Pondok juga menyediakan fasilitas olahraga kepada masyarakat berupa lapangan
sepak bola dan Gedung Olahraga. Adapun penggunaannya telah ditetapkan
berdasarkan jadwal yang ada.
3.
Ekonomi
Pemberdayaan
masyarakat sekitar dalam bidang ekonomi dilakukan melalui penyerapan tenaga
kerja dalam berbagai sektor pekerjaan di Pondok atau melalui berbagai bentuk lainnya. Dalam bahasa Pondok upaya sedemikian ini
biasa diistilahkan sebagai “berkah Pondok untuk masyarakat sekitar”.
Penyerapan tenaga kerja untuk berbagai sektor pekerjaan di Pondok saat ini
melibatkan 402 orang dengan rincian sebagai berikut:
a. 215 pekerja
bangunan
b. 17 pekerja
kebersihan dan tambal sulam
c. 23 pekerja dapur
umum santri
d. 36 pekerja dapur
keluarga
e. 6 pekerja dapur guru
f. 22 pekerja
unit-unit usaha
g. 15 pekerja kantin
santri dan guru
h. 16 pekerja
percetakan
i. 52 penggarap sawah
milik pondok di Gontor dan sekitarnya
Di samping itu berkah Pondok untuk masyarakat juga
berupa pelibatan masyarakat sebagai penyetor bahan-bahan dan penyediaan jasa
dan sarana kebutuhan para santri. Mereka itu berjumlah 196 orang (80%-nya
penduduk desa Gontor dan selebihnya dari desa-desa yang bersebelahan dengan
Gontor) dengan rincian sebagai berikut:
a. 83 Penyetor
kue, lauk-pauk, dan minuman untuk Kantin santri dan guru.
b. 31 Penyetor
sayur-sayuran dan bumbu-bumbuan untuk dapur santri dan guru.
c. 5 Pemasok
beras untuk selep Pondok
e.
9 Penyewaan kendaraan
(sepeda, motor, dan mobil)
f.
3 pemilik kedai
fotokopi
g.
7 Tukang cukur
h.
46 Tukang ojek, kusir dokar, dan tukang becak.
i.
4 Tukang jilid buku.
j.
5 Pembuat kotak
(almari) untuk santri.
k.
3 Penjahit
Upaya lain yang dilakukan Pondok untuk membina dan
memberdayakan masyarakat sekitar adalah dengan menjadi penyalur Kredit Usaha
Tani (KUT) untuk para petani di desa-desa sekitar Pondok.
Pondok juga memberi kesempatan kepada para petani di
sekitar tanah-tanah pertanian milik Pondok untuk mengelola lahan pertanian
tersebut dengan sistem bagi hasil. Di samping itu, di bidang pertanian, Pondok
menyalurkan pupuk kepada para petani. Para petani membayar pupuk tersebut pada
saat panen dengan harga dasar. Gabah hasil panen tersebut oleh para petani
dijual ke Gontor.
Salah satu unit usaha Pondok yang berlokasi di desa
Gontor, yaitu Usaha Kesejahteraan Keluarga (UKK), berfungsi sebagai penjual
grosiran bagi para pemilik toko-toko di desa Gontor dan sekitarnya.
4. Kesehatan.
Di
bidang kesehata Pondok mendirikan Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat
(BKSM). Di samping pelayanan kesehatan,
kegiatan sosial BKSM lainnya dilakukan dengan pengobatan masal dan khitanan massal untuk masyarakat yang
diadakan secara insidentil.
5. Stasiun Radio FM
Dalam rangka mendukung program-program Pondok untuk pemberdayaan dan
pembinaan masyarakat sekitar, didirikanlah stasiun radio Suargo FM. Siaran
Suargo (Suara Gontor) FM dapat menjangkau wilayah Ponorogo dan sekitarnya.
Radio ini menjadi salah satu media komunikasi Pondok dengan masyarakat.
Acara-acaranya meliputi pendidikan, dakwah, hiburan, informasi, dll.
Ketrerlibatan
Pondok dalam membina dan memberdayakan masyarakat sekitar dalam berbagai
wujudnya mendorong Pondok dan juga masyarakat untuk memanfaatkan teknologi
tertentu; baik teknologi untuk menyediakan jasa oleh Pondok atau oleh
masyarakat untuk Pondok, teknologi memproduksi jenis-jenis makanan atau minuman
terutama yang dihasilkan oleh masyarakat untuk dikonsumsi warga Pondok,
teknologi pengelolaan media cetak atau elektronik untuk kepentingan santri
maupun masyarakat, dll.
8. PENUTUP
Melihat pemaparan di atas, tampak bahwa penyikapan terhadap
teknologi informasi dan komunikasi di Pondok Modern Gontor diwujudkan dalam
bentuk penggunaan dan pemanfaatan perangkat-perangkat tersebut untuk
memperlancar program-program pendidikan dan pengajaran. Penggunaan dan pemanfaatan
itu dilakukan sesuai dengan tingkat kebutuhan dan kemampuan yang dimilikinya.
Demikian. Terima kasih dan mohon
maaf. Semoga bermanfaat.
Wallahu a’lam bi
al-shawab.
Gontor, 17 April 2002
LAMPIRAN:
Kegiatan
Ekstrakurikuler
1)
Harian
NO
|
JAM
|
KEGIATAN
|
1
|
O4.00-05.30
|
1. Bangun tidur
2. Salat Subuh berjam’ah.
3. Penambahan kosa kata (Arab atau
Inggris)
4. Membaca al-Qur’an
|
2
|
05.30-06.00
|
Olahraga
Mandi
Kursus-kursus bahasa,
kesenian, ketrampilan, dll.
|
3
|
06.00-06.45
|
Makan pagi
Persiapan masuk kelas
|
4
|
07.00-12.50
|
Masuk kelas pagi
|
5
|
12.50-13.00
|
Keluar kelas
|
6
|
13.00-14.00
|
Salat Zhuhur berjama’ah
Makan siang
|
7
|
14.00-15.00
|
Masuk kelas sore.
|
8
|
15.00-15.45
|
1.
Salat `Ashar berjama’ah
2.
Membaca al-Qur’an
|
9
|
15.45-16.45
|
Aktivitas bebas
|
10
|
16.45-17.15
|
Mandi dan persiapan ke Masjid untuk
jama’ah Maghrib
|
11
|
17.15-18.30
|
1.
Salat Maghrib berjama’ah
2.
Membaca al-Qur’an
|
12
|
18.30-19.30
|
Makan malam
|
13
|
19.30-20.00
|
Salat `Isya’ berjama’ah
|
14
|
20.00-22.00
|
Belajar malam bersama di kelas-kelas.
|
15
|
22.00-04.00
|
Istirahat dan tidur
|
2) Mingguan
NO
|
HARI
|
KEGIATAN
|
1
|
Sabtu
|
Tidak ada perubahan dari jadwal harian
|
2
|
Ahad
|
Pagi hari seperti jadwal harian, malam
hari, setelah Jama’ah `Isya’ ada latihan pidato (muhadharah) dalam
Bahasa Inggris untuk kelas I-IV, kelas V acara diskusi, dan kelas VI menjadi
pembimbing untuk kelompok-kelompok latihan pidato.
|
3
|
Senin
|
Tidak terdapat perubahan dari jadwal
harian
|
4
|
Selasa
|
Pagi hari, sesetelah jama’ah subuh,
latihan percakapan bahasa Arab/Inggris, dilanjutkan lari pagi wajib untuk
para santri.
|
5
|
Rabu
|
Tidak ada perubahan dari jadwal harian
|
6
|
Kamis
|
Dua jam terakhir pelajaran pagi
digunakan untuk latihan pidato dalam bahasa Arab. Siang, jam 13.45-16.00,
dipakai latihan Pramuka. Malam hari, jam 20.00-21.30 ada latihan pidato dalam
bahasa Indonesia.
|
7
|
Jum’at
|
Pagi hari ada kegiatan percakapan dalam
bahasa Arab/Inggris dan dilanjutkan dengan lari pagi wajib untuk para santri.
Setelah lari pagi diadakan kerjabhakti membersihkan lingkungan kampus.
Selanjutnya acara bebas.
|
3)
Tahunan
Di antara acara
tahunan yang sangat penting adalah penyelenggaraan Pekan Perkenalan
Khutbatul `Arsy, yang bertujuan mengenalkan kepada santri kehidupan di PMDG
secara menyeluruh. Acara-acara yang diadakan pada Pekan Perkenalan ini antara
lain: pekan olahraga dan seni, Jambore dan Raimuna yang dihadiri oleh
pondok-pondok cabang Gontor dan pondok-pondok yang dikelola alumni Gontor,
aneka lomba dalam bidang ketrampilan dan ketangkasan, Kuliah Umum Khutbatul
`Arsy tentang kepondokmodernan, dll.
1Melalui Kesepakatan Bersama antara Menteri
Pendidikan Nasional dan Menteri Agama telah ditandatangani Surat Keputusan
Bersama Nomor: 1/U/KB/2000 dan Nomor: MA/86/2000 tentang Pondok Pesantren
Salafiyah Sebagai Pola Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun. Kedua
Departemen ini juga telah memberikan perhatian serius terhadap nasib pesantren
melalui usulan yang diajukan untuk revisi RUU Sisdiknas yang tengah disusun
oleh satu tim di Komisi VI DPR RI. Versi usulan revisi RUU Sisdiknas tersebut
menginginkan pesantren masuk ke dalam sistem pendidikan nasional. Terlepas dari
sikap pro dan kontra dalam menanggapi masuknya pesantren ke dalam UU Sisdiknas,
harus diakui adanya apresiasi yang menggembirakan dari pihak pemerintah dalam
melihat dunia pesantren; sesuatu yang sebenarnya sudah semestinya, tetapi
kenyataannya baru akhir-akhir ini diwujudkan.